Selasa, 01 April 2014

Artikel Pengingat Minum OAT

Pengingat Minum OAT

Angka kejadian tidak konversi TB (masih TB positif) yang didapatkan data dari 2 bulan masa konversi ini semakin mempengaruhi angka daripada MDR (MultiDrug Resistance) TBC. Ironis bisa dikatakan, kenapa program obat TBC terbaru yang diberikan oleh pemerintah ini, yang sekarang obat TBC itu dihomogenkan menjadi  1  macam OAT, yang sekarang dinamakan obat jenis FDC (Fixed Dosed Combination) dan lebih sedikit dalam onset meminum obat ini tetapi makin memperbanyak angka dari MDR dan tidak konversi/TBC positif ini.
Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten KLaten Tahun 2013, Jumlah penderita TBC yg terdaftar sebanyak 132 orang, Jumlah pasien yang mengalami konversi (TBC negative) sebanyak 80 orang, Jumlah pasien yang tidak mengalami konversi (TBC positif) sebanyak 23 orang, jumlah pasien yang tidak melakukan pemeriksaan  dahak sebanyak 24 orang, default 4 orang, pindah 7 orang dan meninggal sebanyak 4 orang. Bisa dilihat dari data DKK tersebut, hanya 61% yang bisa konversi dan ada hampir 7% yang tidak konversi. Mengapa bisa terjadi hal ini? Mengapa sudah dilakukan pengobatan konversi selama 2 bulan masih ada yang tidak mengalami konversi atau masih TBC positif?
Angka tersebut memberikan suatu pertanyaan besar bagi kita. Jika diteliti lagi dari perilaku masyarakat sekarang, tidak hanya gaya hidup yang instan saja, tapi ada yang ‘malas’ dalam mematuhi untuk meminum obat atau bisa jadi dalam hal keterlambatan dalam berobat dan terapi. Memang dulu sebelumnya OAT diberikan secara terpisah yang terdiri dari Rifampicin, INH, Etambutol, Pirazinamid. Dengan pengawasan PMO dalam meminum obat secara teratur dan memberikan hasil yang memuaskan dalam kepatuhan minum obat. Perlu dikaji dalam hal ini apa ada perbedaan dari sisi OAT yang diberikan secara terpisah atau langsung dengan FDC.  Secara teoritis, ada 5 faktor yang menyebabkan wabah MDR TBC, yang didapatkan dari Buletin TBC dari Kemenkes RI ini yaitu antara lain (1) Pengobatan tidak adekuat, (2) Pasien yang lambat terdiagnosis MDR TBC, (3) Pasien dengan TBC resisten yang tidak bisa disembuhkan, (4) Pasien yang sudah diobati tetapi dengan obat yang tidak adekuat, (5)Ko-Infeksi HIV. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK UI bersama RS Persahabatan Jakarta ini didapatkan pasien MDR TBC dominan usia 25-34 tahun, resisten terbanyak 77.2% karena resisten sekunder oleh pengobatan Rifampisin dan Isoniazid dan yang resistensi primer hanya 22,8%. Pengobatan MDR TBC tidak sesuai dengan rejimen, dosis dan lamanya terapi sehingga mempengaruhi kesembuhan dari MDR TBC.
Kembali kita evaluasi mengenai cara onset meminum obat ini, apakah dari pribadi pasien TBC ini sudah meminum obat secara teratur. Kadang tiap orang tak bisa memungkiri, untuk meminum obat saja kadang malas dan bisa tidak tepat waktunya untuk meminum obat. Maka dari hal itu, diperlukan suatu alat yang bisa memberikan suatu pengingat dalam meminum obat, yang bisa lebih dekat dengan pasien itu sendiri. Hal ini bagus, semakin berkembangnya jaman yang sekarang android menyediakan banyak aplikasinya, informasi-informasi kesehatan dapat dijangkau oleh banyak orang. Diharapkan akan ada aplikasi baru yang bisa diunduh dimanapun dan kapanpun mengenai pengingat minum obat bagi penderita TBC.
Selain pengingat meminum OAT, diharapkan alat tersebut juga menyediakan pengingat untuk pasien dalam mengenali gejala-gejala yang menjurus kearah diagnosis TBC ini, agar mendeteksi dini gejala TBC serta pengingat waktu untuk ontrol ke RS/dokter. Pasti bagus juga bila ada alarm khusus bagi para pelanggar “remember OAT” ini kalau melanggar waktunya untuk meminum obat dengan nada-nada yang bisa dimungkinkan pasien ini malu dan ingin segera meminum obatnya. Dengan hal ini, kita bisa setahap membantu kepada masyarakat secara langsung dan membantu program MDGs dalam mengurangi angka mortalitas dan MDR TBC serta meningkatkan kualitas bagi masyarakat pre atau pasca TBC. #IndonesiaMedika

Stop dan Kenali TBC sejak dini!

Rezita Oktiana Rahmawati (Rere)
Mahasiswi Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar