Selasa, 15 September 2020

Lelahku

06.23
Hari ini mungkin terasa begitu lelah..
Bukan lelah fisik,tetapi lelah psikis..
Aku mengerti,semakin kita mendayung bahtera rumah tangga makin dalam,semakin ombak itu menerpa..
Hari ini aku dapat nasihat..
Selain dari ibuku, tetapi juga suamiku,yg mana nasihat keduanya, membuatku tak bisa berkata-kata lebih banyak lagi..
Oh ibu..aku memahami,engkau membesarkan ku, menyekolahkan ku hingga fakultas kedokteran, agar aku bisa menggantikan peran mu dimasyarakat..agar aku bisa bekerja dan membalas Budi yang sudah banyak yg engkau habiskan utkku sekolah,baik itu sisi materi hingga sisi fisik..Engkau hanyalah ingin agar aku bisa bekerja dan memanfaatkan ilmu yang aku miliki..tidak hanya bekerja yg kecil2an,tetapi yang lebih tinggi ekspektasi nya seperti bekerja di RS..
Oh suamiku..aku memahami,engkau tidak menuntut ku lebih,hanya agar aku bisa mengurus rumah,terutama mengurus anak,menyediakan hidangan enak yang konsisten setiap hari dengan varian sayur dan lauk..Jika aku sudah bisa konsisten dengan hal itu,engkau mengizinkan aku bekerja..bekerja pun harus yang ringan seperti membuka praktek pribadi atau bekerja di klinik Rajal..Sedangkan,aku masih banyak kekurangan,terutama belum bisa konsisten masak yang ada sayur mayur,yang mana itu makanan favorit mu..aku ingin mengajakmu untuk berdiskusi,tetapi lidah ini mulai kaku setelah engkau nasihati aku.. sebenarnya Aku tak ingin menyanggah,hanya ingin sedikit menjelaskan atau bisa dijadikan bahan diskusi..
Oh suamiku.. apakah engkau masih ingat masa-masa awal menikah? Saat engkau mengajakku ke Kalimantan timur untuk menemanimu PTT di puskesmas. Pasti ada hari dimana kita bisa bercumbu bersama,berdiskusi kecil membahas hal-hal yg bisa kita diskusikan, komunikasi itu ada. 
Aku bersyukur,kini kita sudah memiliki 2 anak di tengah-tengah kita..Tapi,sering nya aku rindu, mendekati mu, mengajak mengobrol bersama dan itu pun hampir mustahil kini dilakukan.. Sekarang engkau pulang kerja,pasti sudah lelah dan penat dari pekerjaan RS..
Mungkin aku masih belum bisa saat ini.. menjelaskan kepada ibuku.. menjelaskan pada suamiku.. semoga akan ada waktu dimana aku berani dan tepat mengajak mereka berdiskusi..
Hari ini sungguh lelah..lelah dimana aku harus memikirkan sendiri,apa yang dinasehati oleh ibuku maupun suamiku.. 
Yang pasti,aku selalu menyayangi kalian.. meski harus aku tutupi di balik senyum palsuku dan mulut diamku..

Minggu, 09 Desember 2018

Apakah ini yang dinamakan cemburu?

02.17
Perasaan sulit untuk bisa dikendalikan..
Entah kapan perasaan itu muncul..
Kata orang,jika cemburu itu tandanya cinta..
Saat awal-awal pernikahan,suami langsung mengajakku untuk merantau di pulau Kalimantan..
Menemaninya bertugas sebagai dokter PTT,meski hanya sebentar..
Mungkin awal-awal itu pula,proses perkenalan pun dijalani..
Karena sebelum menikah pun,kami tidak saling mengenal satu sama lain..
Terkadang ada rasa tidak suka saat dia bersosialisasi dengan teman-teman sesama tenaga kesehatan yg lain..
Dia sosok dokter yg baik hati..
Di saat teman-teman yang lain meminta tolong,pasti dia kerjakan..
Pernah,saat shalat ied,kebetulan aku masih halangan sehingga aku tak bisa ikut ke masjid..
Saat dia pulang,aku iseng-iseng buka layar hapenya,dan ada foto-foto dia bersama nakes perempuan2..
Sejurus kemudian aku minta klarifikasi,tapi mungkin krn timing yang tidak tepat,dia kesal padaku..
Aku tau,mungkin teman-teman nya mengajak untuk berswafoto,agar semakin mengakrabkan diri dengannya. Karena memang sebelumnya mereka pernah membuat kesal dia krn salah saat konsul pasien. 
Kini...
Setelah 1 tahun pernikahan...
Aku sudah melupakan perasaan posesif ku ini.. 
Pernah di suatu hajatan,ada temennya kuliah perempuan yang to the point bilang padaku,bahwa dia fans terdepan doi. 
Aku hanya bisa tertawa kecil dan tak aku bikin urusan. 
Hajatan lain pun pernah,aku bertemu dengan perawat-perawat perempuan di klinik tempat doi bekerja. Dia terang-terangan bilang padaku bahwa ada perawat yang cantik dan dia menyukai nya. Entah mungkin doi hanya bercanda padaku. Ku pun juga hanya tersenyum sambol tertawa kecil. Lagi-lagi aku tidak membuat hal itu sebegai masalah.
Di lain pihak,ada dokter baru di klinik suamiku bekerja. Karena di klinik itu sedang "krisis" dokter,maka mencari dokter baru yang berbeda alumni almamater nya. 
Memang dokter baru itu,berasal dari almamater yg terkenal dengan no.1 di Jogja. Apalah aku yang hanya lulusan almamater sekolah swasta di solo yang kurang begitu terkenal. Di situlah,aku mulai merasa rendah diri. 
Suatu hari,aku masih suka iseng membuka chatting grup tempat diskusi bersama temen sejawat doi. 
Lalu ada yang bergumam, kalau dokter baru itu menanyakan status pernikahan suamiku. 
Kenapa? Kenapa dokter baru itu harus menanyakan hal seperti itu pada teman sejawat yang lain. 
Sejurus, hal itu membuatku pikiranku bercampur aduk. Lantas,aku cari social medianya dan melihat wajah dokter baru itu. Semakin aku mencari-cari,semakin hatiku berkecamuk. 
Setelah beberapa hari dimana chatting grup itu, aku iseng lagi melihat isi grup itu. Dan benar,sudah tidak ada sisa isi chatting grup yang membuat hatiku berkecamuk.
Ya Allah,apakah ini yang namanya cemburu?
Aku tak berani untuk mengklarifikasi langsung pada suamiku. 
Aku hanya bisa menyimpan perasaan ini saja, agar tidak ada masalah antara kami berdua.
Lagipula aku sedang hamil tua. Aku tidak ingin membuat hatiku stress.
Aku tau,suamiku sedang disibukkan dengan jadwal jaga yang padat. Dan banyak beberapa shift jaga yang bersamaan dengan dokter baru itu. 
Aku hanya bisa berpasrah,berdoa dan berhusnudon pada Allah SWT.
Ya Allah,ampuni segala dosa-dosa dan kekuranganku dalam melayani suamiku.
Semoga setelah ini,aku bisa terus memperbaiki diri dan bisa melayani suami dengan baik serta membahagiakan hati suami setiap harinya.
Jagalah dia saat mencari nafkah. Semoga dia bisa terus menjaga hatinya dan membimbing keluarga kami hingga membawa kami sekeluarga ke JannahMu. 

Rabu, 28 November 2018

Ridhomu juga Ridho-Nya,Suamiku..

06.32
Semakin lama bahtera rumah tangga dijalani, semakin terbuka sifat asli masing-masing suami dan istri.
Mungkin awal pernikahan,merupakan keindahan yg hanya dimiliki seorang istri. Masih malu-malu untuk mengenal satu sama lain.
1 tahun berlalu..
Mungkin orang lain bahagia merayakan 1st year anniversary,dengan kue dan lilin serta tak lupa kejutan indah suaminya untuk istrinya di dinner romantis bersama..
Seperti drama di layar kaca saja..
Harusnya kita sudah bisa bermuhasabah. Semakin mengerti sifat asli kita di depan pasangan kita. Baik buruknya terbuka semua.
Dan saat keburukan pasangan terbuka,akankah kita mau memaafkannya?
Akankah kita mau menasihatinya?
Akankah kita mau tetap menerimanya?
Akankah kita mau membantunya untuk meninggalkan sifat buruknya di masa sebelumnya?
Disinilah dibutuhkan keterbukaan dan komunikasi. Saling menerima satu sama lain. Tidak menjauh saat mengetahui sifat aslinya keluar. Tidak saling mendiamkan diri.
Saat pertama qobiltu dikumandangkan,saat itulah kita harus siap menerima pasangan kita dan berjuang menemaninya utk bersama-sama mendapatkan surgaNya.
Suamiku..
Aku memilihmu,karena aku yakin,bahwa engkau bisa menerimaku dan membimbing ku serta menjadi imamku yg baik.
Bersama membangun para mujahid2 dalam semangat islam.
Semoga engkau selalu memiliki hati yg lapang dalam membimbingku.
Karena Ridhomu juga Ridho-Nya.


Kamis, 25 Oktober 2018

Hujan itu mengingat ku saat di tanah borneo bersamamu

15.28
ingat gak mas? di tengah-tengah hujan yg rintik-rintik waktu pagi itu. Di rumah dinas yang kecil, aku terlelap di kasur karena kelelahan setelah membersihkan seluruh lantai rumah. Aku tak ingin mengganggumu kala itu karena engkau masih asyik membaca buku untuk persiapan tes CPNS. Tak ku sangka,adzan dhuhur membangunkan ku dari tidur cantikku. Engkau tersenyum lebar menyambutku dan mengajakku ke ruang tengah. Masih lekat udara dingin menyentuh tubuhku, tersedia hidangan makanan yang lumayan banyak. Ada mie, ayam, kuah, kerupuk dan minuman. Ya,kamu diam-diam memasakkan ku mie ayam. Ternyata engkau menyiapkan ini untuk menyambut hari ulangtahun ku. Betapa bahagianya diri ini. Meski sederhana, aku bersyukur memilikimu mas.
Kami terbiasa hidup mandiri di tanah Borneo. Keadaan yang menuntut kita, apalagi aku harus selalu memutar otak dan menyiapkan masakan untuk suami setiap harinya. Sayuran disini terbilang mahal, jadi aku variasikan dengan lauk berupa ikan segar, yang harganya lebih miring. Ikan disini besar-besar, seringnya aku kesusahan untuk mengolahnya. Engkau tak bosan untuk membantuku membersihkan kulit-kulit Ari ikan. Mulai dari ikan bandeng, cumi-cumi, kepiting, dan ikan segar lainnya.
Di saat subuh dan Maghrib, inilah momen yang ku rindukan bersamamu. Disana kita saling mengingatkan satu sama lain. Sebelum subuh, kita sempatkan menggelar sajadah untuk menunaikan ibadah sunah shalat tahajud berjamaah. Maghribnya, sambil mengeluarkan motor dinas, ku tunggu engkau di depan rumah dinas. Bak pasangan berpacaran, engkau memboncengkan ku dengan motor dinas menuju masjid untuk menunaikan shalat Maghrib. Setelah itu, kadang engkau mengajakku mencoba makanan gado-gado dekat masjid, yang ternyata juga sama-sama saudara kita asli dari Jawa, atau kwietiau yang Deket Polsek kecamatan. 
Ada waktu kita sempatkan untuk tilawah bersama meski hanya 1  halaman. Setelah engkau tilawah, lalu engkau membantuku untuk menyimak bacaanku dan tajwidnya. Hehe kadang aku masih salah dalam mengucapkan nya, tapi agar aku belajar siap untuk menyambut buah hati kita. Dan seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Aku bahagia bersamamu dan hal yang romantis inilah yang selalu kadang kita lupa karena kesibukan duniawi kita. Semoga kita bisa Istiqomah dalam membangun majelis kita.
 Hal yang seru dan tak terlupakan juga didapatkan, saat aku menemanimu mengambil air bersih dari mata air yang jaraknya mungkin sekitar minimal 3 km dari rumah dinas. Dengan melewati jalan yang tidak beraspal dan kalau habis hujan pasti licin dilewati. Aku ingat, saat aku tak bisa menemanimu, engkau pulang dengan 'tatu'/luka kecil di kaki karena terpeleset di jalanan itu.
Ada yang namanya posyandu keliling. Sebelum menempuh perjalanan air dengan perahu, biasanya teman-teman puskesmas lain memakai ambulans. Lumayan jauh sih menurutku, sekitar 15-30 km dari rumah dinas dan puskesmas kami. Engkau dengan senang hati, mengajakku untuk 1 motor berdua. Hehe,lagi-lagi kayak orang pacaran, aku harus berpegangan dan melingkarkan tanganku pada perutmu. Karena memang jalan yang kami lewati tidak begitu mulus. Meski sebagian ada yang beraspal, tapi banyak jalanan yang sudah rusak dan banyak lubang-lubang. Walau jauh, kita lewati bersama dengan ceria. Kadang kalau weekend dan suami baru libur jaga, kami menyempatkan berangkat dari kecamatan pesisir. Setelah melepaskan penat dengan mengunjungi pesisir pantai di kecamatan sebelah. Agak jauh juga sih,hhee berapa ya kira-kira sekitar 50 km lebih harus dilewati dengan motor dinas kecil.
Hal lain yang tak bisa dilupakan, aku pernah menemanimu begadang di puskesmas sampai pagi jam 3. Kenapa? Karena harus menemanimu menonton siaran badminton live di TV yang terpasang di lobi puskesmas. Di rumah dinas, sebenarnya ada TV, hanya saja katamu tidak bisa dipakai. Masak aku harus tidur sendiri di rumah dinas, yang belakangnya hutan, hiiii.. Sambil ditemani 2 cangkir kopi hangat, saat itu kita cuma berdua saja menontonnya. Pak penjaga puskesmas ternyata tidak datang untuk bergabung dengan kami. Bayangkan, masih ada banyak suara serangga, dan lobi nya terbuka, jadi kalau melihat ke belakang akan terlihat hutan, hiii..
Aku suka juga saat kita berhasil membuat hidangan kepiting bersama. Haha, aku tahu, kamu pasti gampang pusing kalau hanya mencicipi sedikit kepiting. Padahal kita membuat hampir 2 kg, 1 kg untuk ku sendiri, 1 kg untuk temen-temen puskesmas. Karena sering di tempat posyandu yang berada di muara, kepiting dijual dengan harga yang miring. Paling 15-25 ribu 1 kg nya. Meski kami memasak seadanya, Alhamdulillah temen-temen puskesmas suka dan pasti menghabiskan nya.
Mungkin sedikit yang bisa aku ceritakan. Tapi kerinduan dan memori itu tak bisa hilang. Rindu hidup di tempat PTT bersama mu disana. Ya meskipun kadang akses ditempuh agak susah dan cuacanya lebih panas daripada Jawa, tapi kita bisa belajar menjadi pasangan suami istri yang mandiri. Walau hanya sebentar 2,5 bulan menemanimu disana, tapi ku rasa begitu lama berada disana. Semoga ada kesempatan baik kemudian yang bisa membuat kita lebih mandiri bersama. :-)
-PKU Sruweng, 26 Oktober 2018-
3 Minggu sebelum pelepasan dokter internsip..

Rabu, 12 September 2018

Seharusnya

09.23
UK 26 Minggu+4 hari...
Pukul 23.14...
Aku masih terbawa...di kamar sendiri...ku bermuhasabah...
Apakah aku lagi-lagi melakukan kesalahan? Apakah aku masih belum bisa berubah?
H+11 suamiku mengabdi di perantauan tempat pengungsian musibah Lombok...
Aku tahu,,ini sudah keinginan besar darinya untuk mengabdi...
Seharusnya aku bisa ikhlas,,sebagai istri turut mendukungnya....
Lagi-lagi egoku datang...aku selalu menunjukkan rasa rinduku padanya,,apalagi di depan banyak orang...
Aku menginginkan dia segera bisa pulang dan bertemu denganku...
Harusnya,,aku bisa mengesampingkan egoku ini...
Harusnya,,aku berusaha selalu mendukungnya...
Karena saat ini...dia masih dibutuhkan umat...
Sesama profesi di kedokteran...aku tahu rasanya lelah...
Tiap jagaku yang hampir seminggu dan bersamaan dengan perutku yang semakin membesar,,membuat energi ku terkuras...
Dan masih saja aku mengeluh....mengeluh di depannya maupun yang lain...
Harusnya aku kuat...karena ini tuntutan profesi...
Harusnya aku ikhlas...dan tidak menunjukkan keluhan ku...
Memang rindu...betapa besar rinduku...
Aku rindu padanya...di dekatnya....
Ada waktu bersama mencurahkan segala hati kita...
Seharusnya....tapi waktu yang menjawab...
Hanya bisa bersabar,ikhlas,dan terus berjuang menjalani hari...

Minggu, 26 Agustus 2018

Ridho Suami = Ridho Allah SWT

05.57
"mbak...aku termasuk fans garis keras suamimu lho..."
Tiba-tiba aku kaget dengan perkataan wanita itu. Kami bertemu di suatu walimahan sama-sama rekan kami. Sebenarnya aku belum begitu kenal akrab dengan wanita itu,tapi kami sudah sama-sama berteman di dunia Maya.
Bukan jadi masalah dengan perkataan wanita itu. Lagian dia juga sudah menikah. Hanya saja, mungkin dengan cara itu,Allah mengingatkanku.
Flashback...
Awal-awal pernikahan...kami saling peduli satu sama lain..aku dan suamiku..bukan karena sekarang tidak saling peduli,buka seperti itu..sekarang pun semakin lebih peduli..
Memang yang namanya pernikahan itu ibadah seumur hidup, proses belajar pun seumur hidup.
Awalnya,suamiku memang belum begitu mengenalmu karena kita hanya diberikan waktu sebentar untuk ta'aruf lalu khitbah dan menikah. Semakin kesini,suamiku semakin memahami seperti apa diriku. Diriku yang manja,childish,galak,ngambekan dan juga pencemburu. Itu semua terbentuk karena keegoisanku yang terpupuk sejak kecil.
Kadang aku khilaf,aku pun pernah mempermalukan suamiku di depan umum karena keegoisanku..
Kini aku sadar,aku masih butuh banyak belajar untuk menjadi istri yang bisa menyenangkan hati suami. Tidak hanya bisa dandan saja,tapi juga cara bersikap di depan suami. Dengan mimik wajah yang indah,tersenyum ikhlas di depan suami,tutur kata yang lembut di depan suami serta ikhlas selalu semata-mata agar mendapat ridho suami. Karena sekarang setelah menikah,ridho nomer 1 kita adalah suami,bukan orang tua lagi.
Memang pernikahan ini berawal dari saling tidak mengenal,tapi Allah SWT yang mendekatkan karena jodoh yang dipilihkan oleh-Nya.
Maafkan aku,suamiku...semoga ke depannya,aku bisa selalu mengoreksi diri dan lebih baik dari sebelumnya serta meninggalkan sifat burukku.

Minggu, 12 Agustus 2018

Bangku Rotan

04.28
Rindu..
Bangku rotan dgn pola yg khas,bisa digunakan utk berdua,berada di sudut "Eco villa" itu. Saat itu,malam pertama di antara 4 hari trip kita di pulau itu. Eco villa yg berada di atas air ini menambah kenyamanan bagi siapa saja yg menyewanya. Kurang lebih 3 bulan sudah perjalanan pernikahan kita,kalau kata orang masih ada buncahan cinta pengantin baru.
Malam itu..angin yang lewat semerbak,setelah makan malam,engkau mengajakku untuk duduk di bangku rotan itu. Kebetulan bangku itu muat dipakai 2 orang dewasa. Di antara cahaya yang remang-remang dgn lampu neon kuning dan gemericik suara ombak serta bintang-bintang di langit,engkau menatapku. Kita saling mencurahkan segala hal dan mendalami ta'aruf/perkenalan kita satu sama lain. Maklum,kita baru kenal sebentar setelah pernikahan,Krn sebelumnya kita tidak saling mengenal satu sama lain.
Tanpa ada gangguan yg lain,terutama yg skrg gangguan terbesar adalah Gadget!
Di era modern ini, seperti kita hanya berkomunikasi satu arah,bukan dua arah. Krn terfokus pada gadget yg semakin modern dgn happy touch nya.
Sambil ditemani camilan dan jagung bakar ,sampai kita tak sadar kalau sudah mengotori bangku rotan yg indah itu. Betapa asyiknya obrolan kita. Kita tak terganggu dengan villa seberang yg sedang mengadakan pesta. Karena kita sangat menikmati yang namanya "Quality Time".
Tak menyangka,kita yang sama-sama tak bisa berenang,sudah sampai di pulau ini. Jauh di pelupuk mata,kita seperti sangat jauh dari hiruk pikuk daratan.
Betapa aku mensyukuri momen bersama ini. Tabungan yang kita kumpulkan,akhirnya engkau bisa menghadiahkanku dgn liburan di pulau ini.
Aku rindu...rindu akan momen ini..
Ingin sekali duduk bersama lagi..seperti di bangku rotan di pulau itu.


#DerawanIslandMemories
#Honeymoon
#PostWedding
#PasanganSehidupSesurga
#SuamiIstriBahagia

Sabtu, 14 Juli 2018

Buah penantian (2)

08.12

2 garis muncul..,yang membuat semua orang bahagia dengan kabar itu...
Alhamdulillah..setelah penantian dan kesabaran 3-4 bulan ini,Allah memberikanku amanah buah hati kami..
Segala bentuk ikhtiar kami lakukan,di tengah-tengah kesibukan kami,mencoba untuk bisa bertemu dan melepas segala kerinduan..
Semoga dengan amanah baru ini..kami bisa semakin kompak bersama dalam mempersiapkan diri sebagai calon orang tua..💕