Selasa, 18 Oktober 2016

“Ku menemukan cintaMu, atas kepergianmu”

Aku banyak belajar dalam diam. Meneladani tiap insan datang dan pergi. Sejujurnya, semua membawa makna. Yang setia akan senantiasa dalam doanya. Yang misteri akan hilang entah kemana
Sore itu, aku membuka layar notebook untuk sekedar melihat apa yang terjadi di dunia maya. Memang kebiasaanku saat liburan hanya tiduran di kasur, menyiapkan kopi favoritku, headset terpasang dan menyiapkan jari-jariku untuk mengetik keyboard notebook. Liburan bagi anak koas itu sungguh berharga karena hampir 1,5 tahun dihabiskan di RS demi mendapatkan gelar dokter.
‘Anda mendapatkan 1 pemberitahuan’
Aku iseng membuka pemberitahuan di FB lalu aku lihat sosok laki-laki yang bisa dikatakan tampan. Dia menyukai salah satu foto di galeri FB ku. Keluarlah penasaranku tentang sosok itu. Segera aku membuka layar FB laki-laki yang membuatku penasaran. Ternyata dia adalah seorang dokter dan juga mantan aktivis yang disegani di kampusnya. Selain itu, dia tinggi, manis dengan kacamatanya dan juga selalu tersenyum lebar sambil menunjukkan giginya yang putih dan bersih. Rasa penasaranku akhirnya di ambang batas, jari-jariku geli hingga ingin menuliskan pesan di FBnya.
“Assalamu’alaykum, maaf siapa ya? Kok kayak pernah lihat?”
Astaghfirullah..Apa yang telah aku lakukan? Beraninya aku iseng memulai percakapan dengan laki-laki yang belum pernah aku temui sebelumnya.
10 menit kemudian, pesanku dibalas olehnya
“Wa’alaykumsalam, Wr, Wb. Hallo mbak. Perkenalkan saya Gagah. Mbak masih aktif organisasi?”
Aku kaget kenapa dia tahu tentangku. Memang saat kuliah aku memang terkenal sebagai aktifis di kampusku. Tidak tanggung-tanggung pernah 7 organisasi pernah aku miliki. Itu suatu hal yang gila bagi seorang mahasiswi. Alhamdulillah, meski terlalu banyak aktifitas organisasi, IPK lebih dari 3 bisa tercapai meski tidak cumlaude.
“Alhamdulillah, masih aktif organisasi, tapi gak sesering seperti dulu waktu masih kuliah. Panggil saya adik aja, mas. Mas udah selesai magang di RS ya?” Kubalas chatnya sambil menyeruput kopiku yang mulai dingin. Ya Allah, jangan sampai aku terlalu berharap dengan sosok laki-laki tampan yang baru aku kenal ini.
“Ya dik, saya sudah yudisium untuk gelar dokter. Ini rencana saya akan meneruskan kuliah S2 di Jogja, Adik, kita teruskan chatnya lewat line ya. Ini ID line saya. Saya tunggu ya”
Melihat balasan chatnya yang hanya berselang 1 menit itu, aku hampir saja menumpahkan kopiku karena begitu kagetnya. Aku tidak habis pikir jarang ada laki-laki yang memberikan ID line yang privasi. Sebenarnya aku bukan perempuan yang sembarang terbuka dengan orang baru. Tapi aku melihat sosoknya yang memang sesuai kriteriaku 1 profesi denganku, maka aku memutuskan untuk melanjutkan obrolan itu.
Saat aku membuka layar handphone, segera aku membuka line, langsung ‘tambah teman’ dan memasukkan ID line miliknya. Setelah ketemu, ada wujud laki-laki yang berkacamata sambil memakai jas putih di foto profilnya. Subhanallah, gantengnya, aku masih deg-degan waktu mau memulai obrolan kami di line.
“Assalamu’alaykum, mas”
Tidak butuh waktu lama, dia membalas chatku. “Wa’alaykumsalam, Wr, Wb..Hallo dik, kita ketemu lagi ya, hehe. Lagi sibuk apa nih?”
Waduh, lagi-lagi dia cepat sekali membalas lineku. “Hehe, gak sibuk apa-apa mas. Oya, boleh tau berapa tinggi mas? Kok aku lihat kayaknya tinggi dan gagah”
“Hayoo..tebak berapa? Kalau benar, nanti kita ta’aruf ya”
Ta’aruf? Apakah dia sungguh-sungguh mengatakan begitu padaku atau hanya sekedar candaan belaka. Selama ini belum ada laki-laki yang berani mengajakku untuk ta’aruf.
“182 cm?” Tanyaku “Iya betul sekali. Oya, dik. Sebenarnya sudah lama aku pengen ngajak ta’aruf adik. Adik kenal Icha khan? Nanti dia yang akan menyambungkan kita ya. Selama proses ta’aruf nanti adik silahkan bertanya apapun lewatnya. Mungkin percakapan kita sudahi sampai disini ya. Semoga Allah membimbing kita ya,dik. Wassalamu’alaykum, Wr, Wb.”
Masya Allah, ternyata dia benar-benar mengajakku untuk ta’aruf. Percakapan yang ditutup tengah malam ini, langsung kuberitahukan pada ibuku yang sedari tadi belum tidur karena menemaniku terjaga. Mengetahui laki-laki yang mengajakku ta’aruf, ibuku sangat bahagia karena memang beliau menanti-nanti laki-laki yang bisa menjadi calon menantunya.
Selama 1 minggu, melalui Mbak Icha sebagai perantara kami, proses ta’aruf berjalan cepat, dari tukar menukar biodata dan pertanyaan, hingga pada akhirnya Mas Gagah memutuskan untuk bertamu rumahku. Tepat hari minggu pagi, Mas Gagah akan datang bertamu ke rumahku. Segala hal dipersiapkan untuk menyambutnya. Biasanya hari minggu aku hanya malas-malasan di tiduran di kamar, setelah subuh aku sudah bersih-bersih rumah. Ibuku sudah membuatkan ikan goreng karena di desa tempatku tinggal memang terkenal dengan desa wisata air yang banyak dengan aneka jenis ikan. Tiba-tiba aku mendapatkan chat dari Mbak Icha. Hal yang tidak terduga terjadi, Mbak Icha mengatakan bahwa dia ingin mundur sebagai perantara kami.
Bagai terkena kilatan dari langit, aku tak menyangka. Apakah ini firasat atau pertanda yang tidak baik? Namun aku tidak terlalu membingungkan hal itu. Aku tetap yakin dia akan datang. Siangnya, Mas Gagah pun datang  meski terlambat dari yang dia rencanakan. Turun dari mobil, terlihat sosok yang membuatku terpesona seketika padanya. Sosok berkacamata, memakai pakaian koko rapi, bawahan celana dan sepatu yang menurutku modis bagi seorang pria. Orang tuaku mempersilahkan dia masuk dan duduk di ruang tamu.
Aku dan ibuku menyiapkan hidangan yang akan disajikan untuk tamu yang sudah ku tunggu-tunggu kehadirannya ini. Saat akan menghidangkan makanan, tiba-tiba aku tergelincir hingga menumpahkan makanan biskuit di depannya. Aku sangat malu dengan yang apa aku lakukan di depannya. Aku segera mengambil biskuit itu yang sempat membuat berantakan lantai yang sudah bersih itu.
Sudah 10 menit orang tuaku bercakap-cakap dengannya. Sebelumnya aku hanya duduk menanti di ruang keluarga. Setelah itu ibu memanggilku untuk menemuinya dan kami ditinggal berdua.
“Hey dik..Apa kabarnya?”
“Alhamdulillah baik mas. Bagaimana kabar mas?” Sambil aku tundukkan pandanganku darinya. Sudah lama aku tak bertemu laki-laki secara langsung. Di masa laluku, memang aku sering bertemu dan bahkan mudah berkumpul dengan laki-laki. Allah memang sayang bagi hamba-hambaNya yang dicintaiNya. Kini aku sudah jarang berinteraksi langsung dengan laki-laki bila tidak ada kepentingan. Hal ini untuk menjaga diriku.
“Alhamdulillah baik juga dik. Gimana koasnya? Oya, mas boleh tau jadwal koasmu untuk 1 minggu ke depan?”
Apa lagi yang ingin dia sampaikan padaku? Apa dia ingin menemuiku dengan orang tuanya?
“Insya Allah, jadwal adik longgar untuk akhir pekan mas.”
“Ya dik, syukurlah. Insya Allah mas akan datang lagi dengan orang tua di akhir pekan ya”
Sungguh aku tak menyangka, secepat inikah proses kami. Memang proses ta’aruf tidak boleh terlalu lama dan menunda-nunda untuk segera menuju jenjang khitbah hingga pernikahan.
“Dik…Hei dik….” Dia mengagetkanku dari lamunanku. Ah, aku memang wanita yang baperan, dikit-dikit dibawa perasaan dan gampang ngelamun.
“Oya dik, maaf mas gak bisa lama-lama, karena ini masih harus ke Jogja, untuk beres-beres pindahan. Besok senin sudah mulai kuliah. Mas boleh pamitan sama bapak ibu?”
“Iya mas. Saya akan sampaikan bapak dan ibu”
Setelah dia berpamitan padaku dan orangtuaku, dia melaju pergi dengan tanda tanya besar dari dalam diriku. Bagaiamana kelanjutan kami? Sudah tidak ada perantara yang menyambungkan komunikasi kami lagi. Malamnya, aku sengaja untuk tidur lebih awal agar bisa bangun di 1/3 malam bermunajat kepada Allah dan memohon petunjukNya.
Mengetahui rencana dia untuk datang ke rumahku bersama keluarganya, ibuku langsung memberikan kabar baik ini ke keluarga besar. Karena di keluargaku, acara ini harus disambut dengan baik oleh keluarga besar dan dipersiapkan lebih matang lagi.
Hari berganti hari, masih belum ada kabar darinya. Setiap waktuku aku terus memikirkannya. Apakah sudah berakhir sampai disini?
“Zi, gimana kemarin pertemuannya sama mas? Teman-temanmu juga pengen tahu ini”
“Insya Allah, mohon doanya saja ya” aku membalas pertanyaan teman-temanku dengan wajah datar.
“Ciyee akhirnya setelah menjomblo lama, ada yang mau meminang Zizi yang galauan” celoteh teman-temanku disertai tertawaan mereka. Aku hanya bisa bungkam begitu saja. Hanya bisa pasrah dengan ketentuan Allah. Mas kamu dimana sebenarnya?
Hingga 3 hari setelah pertemuan kami, dia baru bisa menyapaku di line. Betapa bahagianya aku akhirnya dia kembali setelah penantianku berhari-hari.
Dia mengetuk layar handphoneku. Tidak hanya pembicaraan melalui chat, dia sudah berani mengajakku untuk berkomunikasi melalui telepon. Batasan ta’aruf yang dari awal kami bangun, akhirnya jebol karena kami berkomunikasi intens setiap harinya.
“Pagi adik..Udah shalat subuh belum? Nanti jangan lupa sarapan ya sebelum berangkat ke RS”
“Pagi juga mas. Sudah donk, on time juga. Mas juga ya. Nanti ada kuliah mas?”
“Ada dik…Okey, semangat ya koasnya! J
Percakapan terus berlanjut. Di balik kesibukan kami, pasti ada waktu luang untuk saling menyapa melalui suara. Hari-hari rasanya membuatku bahagia. Tetapi kebahagiaan ini tidak berjalan lama hingga dia memberi kabar yang membuatku terasa terjatuh.
“Adik, maafkan mas ya. Pamanku yang biasa mengantarkan orang tua mas, sekarang baru operasi tumor. Maaf belum bisa datang ke rumah besok minggu. Tunggu kabar mas lagi ya”
Aku tidak dapat menduga, apakah dia hanya alasan begitu saja padaku? Apakah dia benar-benar lupa tentang syariat ta’aruf? Dia malah mengajakku di jalan yang bisa dikatakan seperti orang pacaran. Mungkin ini ujian sementara kami, dan aku hanya bisa menerimanya.
Hingga akhir pekan, waktu yang seharusnya dia datang bersama keluarganya, dia tidak datang. Layar kaca handphoneku juga sepi tanpa ada kehadirannya. Tidak ada sapaan lagi dari dirinya. Dia berubah 180 derajat. Aku hanya bisa terdiam di pojok kamarku.
Karena sejak pagi hingga siang aku tidak keluar kamar, orang tuaku bertanya-tanya. Mereka menghampiriku menanyakan apa yang terjadi pada diriku. Aku tak kuat hingga terbaring begitu saja di kaki ibuku dan terurailah air mataku. Ayahku tidak tega melihat anak perempuan satu-satunya menangis, lalu beliau memutuskan untuk menelepon Mas Gagah.
10 menit ayahku bercakap-cakap melalui telepon dengannya. Setelah telepon ditutup, ayah langsung mengusap kerudungku dan mengutarakan bahwa sang ikhwan mundur dari ta’aruf dan memberhentikan proses ta’aruf kami. Bagai hujan yang turun dengan derasnya, isakan air mata berubah menjadi derasnya air mata yang membanjiri kerudungku. Aku tak menyangka, orang yang aku yakini akan menjadi akhir penantianku ini akhirnya pergi begitu saja dengan membawa guncangan hatiku yang patah. Kedua orang tuaku sangat prihatin melihat duka yang dirasakan anaknya lalu mereka memeluk anandanya tersayang.
Aku tak tahu lagi mau dibawa kemana lagi mukaku ini? Khususnya di depan teman-temanku yang suka menertawaiku. Bagaimana jika nanti keluarga besar menanyakan tentang kegagalan ta’arufku ini? Aku jatuh sejatuh-jatuhnya. Hal ini berpengaruh dengan keseharian kegiatan koasku di RS. Aku lebih banyak diam di depan teman-temanku, sering membuat kesalahan, rasanya selalu ada batu besar yang menimpa punggungku tiap waktu.
Allah begitu sayang pada hambaNya yang selalu taat padaNya. Meskipun masih berat beban ini, aku curahkan segalanya pada Maha Pencipta di 1/3 malam. Aku tak kuat membendung derasnya air mata diantara dingin yang menyayat badanku. Begitu beratnya punggung ini, sampai tak sadar aku sudah terjatuh di atas sajadahku. Kenapa dia hadir membawa kekecewaan keluargaku, Ya Rabb? Tak apa aku pernah dibuat sakit hati, tapi jangan untuk kedua orangtuku, Ya Rabb, ampuni aku Ya Allah, jika pernah mengharapkan terlalu berlebihan pada ciptaanMu.
Sudah 1 bulan setelah kepergiannya, dia sudah tidak menyapaku lagi, perlahan-lahan dia mulai hilang, dia juga tidak terlihat di sosmed dan aku mulai bisa bangkit. Di tengah-tengah jadwal koasku yang penuh, aku sempatkan untuk melangkahkan kakiku ke masjid hanya sekedar ingin kembali mendekati pemilik hati ini. Membuat agenda amalan yaumiyah. Mulai rutin tilawah dan murratal Al Qur’an. Aku menyempatkan diri bangun lebih awal di pagi hari untuk qiyamul lail.
Allah Maha Pemurah. Alhamdulillah, wujud sosoknya kini sudah pergi dari ingatanku dan aku sudah bisa mengikhlaskannya. Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hambaNya yang selalu berserah diri padaNya.  

1 komentar:

  1. Cerita yang bagus... Semoga diertemukan pria yang tepat n diwaktu yang tepat.. Aamiin...

    BalasHapus